tanggal
Selasa, 07 Februari 2012statistik






![]() | hari ini | 57 |
![]() | kemarin | 99 |
![]() | minggu ini | 156 |
![]() | bulan ini | 693 |
![]() | total | 36834 |
renungan
database
galery foto
waktu
| Rencana Tuhan tak pernah gagal |
|
|
|
|
Firman Tuhan : 2 Raja Raja 5 : 1 Pelayan Firman : Pdt. S. Rumapea Dalam bacaan kita, Naaman bukan manusia biasa, dia seorang panglima di Kerajaan Aram. Naaman juga seorang yang terpandang dan disayangi oleh tuannya. Tetapi sayang sekali, dia menderita sakit kusta. Ternyata tak ada satupun manusia di bumi ini yang sempurna. Naaman mempunyai kedudukan dan dihormati, memiliki segala galanya tetapi sayangnya dia sakit kusta. Sakit Kusta waktu zaman itu, merupakan suatu penyakit kutukan,dijauhkan dan dikucilkan dari lingkungan masyarakat, tidak layak untuk datang di hadirat Tuhan dalam rumah Ibadah. Ada beberapa hal yang menekan manusia sehingga membuat frustasi, antara lain : 1. Pengkotbah 6 : 1 -2 " Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia: ini merupakan kemalangan yang sangat menekan manusia. Bukan soal tidak ada berkat, tetapi sayangnya Allah tidak memberi karunia untuk menikmatinya. Sama seperti Naaman, dia punya segala galanya tetapi tidak dapat menikmatinya. 2. Hagai 1 : 6 " Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!" Walaupun Naaman sakit kusta, Allah berkenan kepada dia. Allah memberi kemenangan kepada Bangsa Aram. Tuhan mempunyai rancangan yang indah untuk menyembuhkan sakit kusta Naaman. Melalui Nabi Elisa, akhirnya Naaman bisa sembuh kembali. Demikan pula halnya dengan kita, ada rencana yang indah dalam hidup kita dimana Tuhan ingin menyatakan kuasa-Nya.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |


























