tanggal
Selasa, 07 Februari 2012statistik






![]() | hari ini | 53 |
![]() | kemarin | 99 |
![]() | minggu ini | 152 |
![]() | bulan ini | 689 |
![]() | total | 36829 |
renungan
database
galery foto
waktu
| Yesus harta segalanya |
|
|
|
|
Firman Tuhan : Matius 13 : 44 - 46 Pelayan Firman : Pdt. Yohanes Limuria Dalam pembacaan kita, yang dimaksud dengan harta yang terpendam adalah Yesus begitu pula dengan mutiara yang indah adalah gambaran tentang Yesus itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan kepada kita saat ini adalah apakah kita telah menjadikan Yesus sebagai harta yang mahal dan tak ternilai harganya ? Suatu kali Yesus menjawab pertanyaan orang muda yang kaya raya tentang bagaimana cara memperoleh hidup yang kekal (Matius 19:16), di bagian akhir Yesus pun menjawab kepadanya agar ia menjual semua hartanya dan membagikan kepada yang miskin. Orang muda itu menjadi sedih dan berdukacita karena lebih mencintai harta duniawi. ia tidak mengerti bahwa Yesus lah harta karun yang sebenarnya. Apalah arti nya memiliki banyak harta tetapi kehilangan nyawa dan kehidupan yang kekal ? Dalam kejadian mujizat penyembuhan 10 orang yang sakit kusta, hanya satu orang saja yang datang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih da bersukacita karena Yesus telah menyembuhkannya (Lukas 17:15). Sukacita berarti suatu keadaan bahagia yang tidak dapat dibayangkan / dilukiskan dengan kata - kata. Dunia menawarkan sukacita tetapi sifatnya semu dan sementara. Sukacita yang berasal dari Yesus sifatnya tetap dan luar biasa. Elifas, sahabat Ayub berkata apabila Tuhan menjadi harta karun kita maka kita akan bersenang senang dan bersukacita karena Tuhan (Ayub 22 :25-26). Dimana hartamu berada, disitulah hatimu berada oleh sebab itu marilah kita jadikan Tuhan sebagai harta karun kita dan kita akan mengalami sukacita yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada kita.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



























Ringkasan Kotbah Minggu Pagi tanggal 2 November 2008