tanggal
Kamis, 23 Februari 2012statistik






![]() | hari ini | 67 |
![]() | kemarin | 97 |
![]() | minggu ini | 356 |
![]() | bulan ini | 2214 |
![]() | total | 38354 |
renungan
database
galery foto
waktu
| Kuasa urapan mendatangkan berkat |
|
|
|
|
Pelayan Firman : Pdt. Jemmy Watulo Seperti minyak yang baik di atas kepala mengandung pengertian bahwa dalam setiap kehidupan yang kita jalani, kita memerlukan urapan Allah yang mengurapi kepala dan tubuh kita. Mengapa kepala terlebih dahulu diurapi ? karena di dalamnya terdapat pikiran yang seringkali menjadi ajang pertempuran antara manusia dengan kuasa kegelapan. Contohnya adalah ketika Hawa barjalan sendirian di Taman Eden, ia bertemu dengan ular dan terjadilah dialog. Pada akhirnya timbullah pemikiran Hawa untuk mau menjadi sama seperti Allah. Tuhan mau kepala (termasuk pikiran kita) diurapi sehingga mampu berjalan di dalam kebenaran Tuhan. Dalam Filipi 2:5, " Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus". Pola cara pikir kita diubah menjadi sama dengan pola dan cara pikir Kristus. Pemikiran kita harus menjadi sama seperti Kristus karena situasi dan kondisi yang kita hadapi saat ini sudah sangat menakutkan dan menggemparkan. Musibah Wassior, Mentawai dan Gunung Merapi memberikan contoh nyata agar kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Perlunya Allah mengubah pola pikir kita agar kita tidak memperoleh kesulitan dan kesukaran dalam menghadapi hidup ini. Dalam 1 Samuel 17, bila Daud berjalan dengan akal pikirannya, tentu saja ia akan menyerah. Tetapi ia menggunakan pola pikir Kristus. Daud tidak takut dengan apa pun juga sebab pola pikirnya bukan pada fakta tetapi kepada Allah yang besar. Saul yang sebagai seorang raja, seharusnya ia menguatkan semangat Daud dan bukan menjatuhkannya. Saul menggunakan pola pikir manusia yang melihat Goliat dari sudut pandang fisik musuhnya. Pesta perkawinan di Kana terjadi kegelisahan dimana pesta yang masih berlangsung tetapi minuman anggur sudah habis. Ini tentunya merupakan peristiwa yang memalukan bagi tuan pesta. Maria lalu meminta kepada Yesus untuk berbuat sesuatu. Yesus meminta agar tempayan di isi dengan air. Pada akhirnya terjadilah mujizat dimana air tersebut berubah menjadi anggur. Bila saja pelayan-pelayan itu melihat fakta yang ada dimana yang diisi adalah air, bisa saja mereka menolak. Tetapi karena pelayan itu percaya kepada Yesus, Anak Allah yang hidup, maka yang terjadi adalah air menjadi anggur dan mereka minum bersama dan diliputi kegembiraan dan sukacita. Di tengah-tengah kehidupan kita, Yesus mau agar kita memiliki pola pikir yang sama seperti Kristus. Tuhan memberkati.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



























Firman Tuhan : Mazmur 133:1-3